<BGSOUND SRC="mars.mid" LOOP=INFINITE> Mamahit

TARIAN MAENGKET PURBA - SAMPAI ABAD 15

Tarian Maengket mengandung dua unsur yakni seni menyanyi dan seni menari, dengan demikian tarian ini belum akan ada apabila orang Minahasa purba belum dapat menyanyi dan menari.
Dari kumpulan analisa dewa-dewi yang sebenarnya adalah leluhur orang Minahasa jaman purba, yang dilakukan oleh pembantu pendeta Sonder J.Albt.t.Schwarz. dengan cara me-wawancarai dan berdialog dengan para pemimpin adat wilayah Tontemboan yang bergelar TONA'AS dan WALIAN di tahun 1900. Dapatlah diketahui pembagian fungsi dan peran para leluhur orang Minahasa purba dalam komunitas awal bermasyarakat, yang pemerintahannya di pegang oleh kaum wanita. Buku kumpulan ceritera mengenai leluhur orang Minahasa berjudul "Tontemboansche Teksten" dalam bahasa Tontemboan dan terjemahannya dalam bahasa Belanda terbit tahun 1907.


MANGORAI,
Wanita  tua pemimpin maengket Katuanan   
“Mengenai Dewa-Dewi, misalnya kisah
“Raranian ni Karema” nyanyian, 
Karema-To’ar dan Lumimuut.
( Meyer & Richter )

Kedua buku ini terpisah dan untuk dapat mengetahui hasil analisanya mengenai
ceritera leluhur orang Minahasa jaman purba yang telah menjadi dewa-dewi, Opo'-Opo' atau APO' dalam bahasa Minahasa Tontemboan. Maka kita harus dapat mengerti bahasa tontemboan dan bahasa Belanda, karena si penulis J.alb.T.Schwarz menguasai kedua bahasa itu secara aktif walaupun dia orang Jerman tapi lahir di Langouwan Minahasa.
TUHAN orang Minahasa punya banyak nama, demikian juga leluhur purba atau penduduk awal di tanah Minahasa.

TUHAN disebut :
- I Wa'ilan an dangka (si yang mulia diatas langit)
- Empung Wangko (Tuhan maha besar)
- Si Esa (dia yang satu)
- Si apo' nimema i tjita (si yang menciptakan kita manusia)

Dewi KAREMA disebut :
- Si mengesa-ngesa (yang hidup seorang diri, si janda)
- Si Wine'bet = yang ditarik kelangit (nabi perempuan)
- Sarawsanga repa
   (yang tingginya sama dengan tongkat pohon jelaga, atau Asa, panjang satu depa)
- De eerste mensch (bahasa Belanda) artinya ; Manusia pertama.

Dewi LUMIMU'UT disebut :
- Si Apo' minema in tana' (bahasa Tontemboan)
- De vrouw die het land heft bebouwd,
  de woonplaatsen harer kinderen vast te stellen (bahasa Belanda) artinya ;
Wanita(Ibu) yang membangun bumi untuk dapat didiami dan mengatur tempat
kediaman anak-anaknya.
(tontemboansche Teksten terjemahan bahasa Belanda 1907 halaman 373)

Dewi MARUYA disebut :
- Si Raraha (Dewi gadis) adik perempuan Dewi KAREMA
- Si rumeingdeng in tana' (yang menyanyikan bumi, dewi penyanyi)
- Sa rei'tja ni reingdeng I MATUYA, ya en tana' nimarai'tja (bahasa Tontemban)
- Met de Rumeingdeng artinya ; yang dimaksudkan dengan Rumeingdeng dalam tulisan ini adalah nyanyian "Reingdeng"

Dengan membandingkan indentitas fungsi antara dewi LUMIMU'UT dan dewi penyanyi MARUAYA, dapat kita analisa bahwa dewi LUMIMU'UT tidak dapat mengolah bumi bila tidak di ikuti lagu "Reingdeng" yang dinyanyikan oleh dewi MARUAYA. Kesimpulannya adalah bahw seni menyanyi sudah dikenal orang Minahasa sejak jaman TO'AR dan LUMIMU'UT setelah mengenal sistim bercocok tanam.

Dewi RUMINTUWU' (Tuwu' = daun woka muda).
- "Lintuwu" (daun woka muda) berfungsi sebagai alat "O'orai"dan tariannya disebut "Mangorai", karena terian memakai alat daun woka muda, maka si penari disebut RUMINTUMWU'.
Pada daftar anak-anak TOAR dan LUMIMU'UT (halaman. 404) ada dua dewi yakni MARUAYA dan RUMINTUWU', karena sebutan Dewi penyanyi pertama adalah adik perempuandewi KAREMA. Kemudian jabatan dewi penyanyi lalu berpindah digunakan sebagai nama gelar anak perempuan LUMIMUU'UT, tapi dewi penari pertama RUMINTUWU baru mulai ada setelah TOAR dan LUMIMU'UT.

Dalam bentuk selisih digambarkan sebagai berikut :
(1) LAREMA (2) MUARAYA (3) LUMIMU'UT bersuami (4) TOAR, dua orang anak perempuan perkawinan TOAR dan LUMIMU'UT bernama MARUAYA (dewi penyanyi) dan RUMINTUWU (dewi penari).

Dengan demikian dapat kita ambil kesimpulan bahwa seni menyanyi yang mula-mula berfungsi dalam upacara agama asli dan upacara adat jaman purba setelah mengenal bercocok tanam. Karena agama asli Minahasa jaman purba dipimpin oleh kaum wanita jaman "Matriargaat",maka tarian kaum pria Minahasa tidak di masukkan sebagai bagian upacara adat. Pada jaman periode berburu dan mengumpulkan makanan, sebelum hidup menetap dan bercocok tanam misalnya tarian berburu binatang dan tarian perang. Tapi menyanyi dan menari sebagai sebuah karya seni dengan berbagai ketentuan dan aturan-aturan, sudah ada sejak jaman TOAR-LUMIMU'UT, bahwa menyanyi harus dengan suara "Lengdeng" Reingdeng (nyaring) danmenari harus memegang daun woka (Livistonia Rotundifolia).
Tarian MAENGKET tentu baru lahir beberapa generasi setelah jaman TOAR - LUMIMU'UT sebagai upacara terimakasih kepada LUMIMU'UT sebagai dewi Bumi dan TOAR sebagai dewa Matahari, dalam bentuk tarian kesuburan sebelum orang Minahasa mengenal tanaman padi. Nama tarian itu antara lain Maengket TUMUMBAL (mengolah tanah dan menanam biji-bijian), Maengket SUMEPO atau RUMAMBUS tarian memetik sayuran, Maengket MARAMBA setelah periode hidup menetap, membangun negeri dan membangun rumah. Maengket LALAYA'AN tarian muda-mudia pada upacara bulan purnama "Mahatembulelenen".

Peter Bellwood (Sulawesi Islan Crossroads of Indonesia, 1990 halaman. 24) bahwa penduduk negeri PASO (selatan danau Tondano) sudah hidup menetap sejak 3.000. tahun lalu demikian juga di Tonsawang. Tanaman padi mulai ada tahun 500 masehi, muncul pertama di kepulauan Sangihe, berarti padi pertama muncul dari Utara Minahasa, kemungkinan dari Philipina melalui pulau Sangihe. Penulis J.G.F.Riedel menganalisa dalam bukunya "rurumeran ne Empung" bahwa mahadew MUTU-MUTU hidup abad ke tujuh, dia bernama KUMOKOMBA dan istrinya bernama RINUNTUNAN. Memberi patokan pada kita bahwa fungsi padi pada abad ke tujuh di Minahasa belum penting sebagai bahan komoditi utama, tidak ada beras masih ada makanan umbi-umbian. Tapi pada periode ini sudah ada dwi penanam padi misalnya ; REWUMBENE, RAMPAWENE, SE'E WENE, UNTAIBENE, KEMBU'AN WENE. Abad ke sembilan ada Dewa bernama ARUR KRITO beristri LINTJANBENE (dikelilingi padi) dan dewa ARUR KRITO itu bergelar MUNTU - UNTU (Maha Dewa).

Arti LINTJANBENE (Lingkanbene) tidak ada sebagai Dewi penanam padi, tetapi Dewi penguasa tanaman padi, yang mengatur export beras keluar Minahasa misalnya dikirim ke Ternate. Abad 13 dewi LINGTJANBENE hidup di Tonsea, suaminya bernama RORINGTUDUS bergelar MUNTU - UNTU, abad 15 Dewi LINGKANBENE hidup di Wenang (sekarang Manado) suaminya bernama LOLONG LASUT juga bergelar MUNTU-UNTU, tempat penimbunan padi abad 15 di Wenang bernama "Tokambene"(toka = bukit ; wenw = padi) Dewi LINGKANBENE dan suaminya MUNTU-UNTU abad 15 ini, yang di kisahkan dalam syair lagu Maengket "Owey Kamberu"sekarang ini ……..MUNTU - UNTU tare Walian ko, nimasarani mo, milek se pangoreian mene'sel o wusang.

Artinya :
MUNTU - UNTU engkau pemimpin adat dan agama asli, setelah di babtis Kristen Katolik (oleh Spanyol) engkau menyesal juga melihat tarian"Mangorai"

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa jenis Maengket OWEY KAMBERU baru muncul di Minahasa abad ke sembilan, setelah fungsi padi dalam hal ini Beras dijadikan sebagai alat politik ekonomi para kepala-kepala Paksa'an Minahasa dimana Kepala walak sebagai MUNTU - UNTU dan istrinya berfungsi sebagai LINGKAN WENE.

WALIAN IN UMA (wanita)    
Yang memimpin Tarian Maengket
“Mamowey Kamberu”, “Rumambak “
dan “Lalayaan”                 
( DR. A.B Meyer 1889 )

Syair Maengket dengan jelas menerangkan, siapa MUNTU - UNTU abad 15, yakni MUNTU - UNTU yang di baptis masuk Kristen, dan kepala walak orang Minahasa pertama dibabtis Kristen adalah kepala walak negeri Wenang. Ada raja Manado(pulau Manadotua) TULULIO yang sebelumnya telah dibabtis Pater Portugis, tapi raja Manado di pulau "Manaro&quo (manadotua) bukan kepala walak Minahasa dan tidak berkuasa atas daratan Minahasa. Adalagi kepala walak di wilayah kota Manado sekarang ini yakni ayah LOLONG LASUT bernama RURU ARES sebagai kepala walak negeri Ares Tikala, tapi tidak masuk Kristen.
Peranan priduksi beras Minahasa baru mulai tercatat setelah munculnya bangsa barat Portugis di Ternate tahun 1511 dan Spanyol 1521, penduduk pulau Ternate dan penghuni Benteng Portugis - Spanyol di Ternate makan nasi, tapi di pulau Ternate tidak tumbuh tanaman padi. Tahun 1609 V.O.C Belanda sudah datang membeli beras ke pelabuhan Wenang Manado, kemudian peperangan yang terjadi di Minahasa antara Spanyol dengan V.O.C. Belanda, antara spanyol dengan orang Minahasa tahun 1644, antara orang Minahasa dengan Hindia Belanda tahun 1808, semuanya disebabkan oleh produksi beras Minahasa.

Peranan LINGKAN WENE ini yang tercermin dalam syair lagu Maengket"Owey Kamberu" yakni LINGKAN WENE yang hidup abad kesembilan di Tontemboan, LINGKAN WENE yang hidup abad 13 di Tonsea, dan LINGKAN WENE yang hidup abad 15 di Tombulu. Produksi padi yang melimpah seperti air sungai, menaikkan eksport beras yang memberi kemajuan dalam perekonomian masyarakat, LINGKAN WENE abad 15 sampai berlayar menemui Gubernur Spanyol di Ternate. Tapi karena meninggalkan MUNTU UNTU suaminya di Wenang (Manado) maka ceriteranya berkepanjangan sampai terjadi perang orang Tombulu mengusir orang Spanyol tahun 1643 akibatnya 10 Agustus 1644 seluruh orang Minahasa memerangi Spanyol supaya meninggalkan Minahasa.

Ceriteranya produksi beras dan politik perdagangan beras yang melakukan hati dari Dewi LINGKAN WENE ini, yang dijadikan kata semboiyan dengan lagu …………………..OWEY SIKAMBERU Eeee.
Bukan saja proses kerja, menanam, mencangkul, memelihara, memetik,mengumpulkan dalam lubung padi, menumbuknya menjadi beras, yang melelahkan. Tapi juga usaha keras dewi padi LINGKAN WENE untuk menaikkan produksi beras, menaikkan tingkat ekonomi masyarakat dan keluarga, sering berakibat hal yang mengecewakan. Menyusahkan hati, melelahkan pikiran, karena kekayaan tidaklah segalanya bila dewi padi (Lingkan wene) sampai harus bertengkar bahkan bererai dengan suaminya Maha Dewa MUNTU - UNTU.
Sebuah syair Maengket "Owey Kamberu" periode sebelum tahun 1900 (buku : De Minahasa-N.Graafland. 1898. halaman.292) sebagai berikut ………..Lingkambene, temboanu si mahatepu wana laser Temboanu si mahatepu wana lesar, sa sia kana'uanupe' Oweeii………
Terjemahan : Lingkanwene, lihatlah si yang muncul di halaman, lihatlah lihatlah si yang muncul di halaman, apabila engkau masih mengenal-nya ….Oweeiii…..

TONA’AS IN UMA atau
“Tanaas Pertanian, memegang
tombak pendek disebut
“ Tinelungan”

Syair ini mengisahkan bahwa dewi padi Lingkanwene abad 15, tidak mau mengenal suaminya yang bergelar maha dewa MUNTU - UNTU. Padahal perekonomian minahasa abad 15-16 mengalami kemajuan, Mulai ada sapi dan kuda di Minahasa,mulai menggunakan Kadera (korsi), meja, senapan(muskat), busana kemeja, cermin, sisir, kain sutra India dan kain sutra Cina, porselein Cin dinasti Ming yang Indah, gerobak pedati,topi kuningan dari Portugis dan Spanyol, Lantaka (mariam), sepatu dan sebagainya.
Semuanya melakukan hati dan pikiran suami istri dewi padi LINGKAN WENE dan maha dewa MUNTU - UNTU …..Owey Kamberu……….. Ada satu baris sastra mengenai dewi padi LINGKAN WENE yang mendapat perluasan pengertian kata petunjuk, contoh ENDO artinya hari, SI ENDO artinya MATAHARI sebagai berikut :
Esa uman giyo si Lingkanwene
Waya'an si pelengan … kumamnberu, kamberu
Apa bedanya dengan kalimat :
Esa uman giyo ni Lingkanwene

Syair dari buku "A'asaren wo raranian ne Touw un Bulu" tulis J.G.F.Riedel  tahun 1869, nyanyian nomor 88 ESA UMAN GIYO SI LINGKAN WENE ingin menjelaskan bahwa SI LINGKAN WENE yang hidup abad 15 (istri Lolong  Lasut), yang hidup abad 13 (istri Roring Tudus) yang hidup abad 9 (istri Arur  Krito) punya kebebasanuntuk menikah lagi "Waya'an si Pelengan" agar tetap    berkuasa mengendalikan produksi beras.
Dengan demikian harus mengorbankan  kebahadiaan perkawinannya agar tetap mengendalikan produksi beras di seluruh  Minahasa. Kisah hidup LINGKAN WENE abad 13 dan abad 9 pasti sama tragisnya dengan kisah LINGKAN WENE abad 15. anak perempuan dari TORINDATU menikah pertama dengan saudagar besar AWONDTU, menikah kedua dengan    penguasa Wenang LOLONG LASUT yang bergelar MUNTU - UNTU, lalu menjadi istri Gubernur Spanyol di Ternate ANTONIUS GALVANO, kemudian  MUNTU - UNTU (Lolong Lasut) berlayar ke Ternate untuk dibaptis menjadi JESO KRISTO terlihat pada syair Mengket Tonsea sebagai berikut :

Muntu untu tare Wadianko, simengkot lako Simengkottarelako ko Minaseranimo
Artinya : Muntu untuk engkau kepala agama asli, engkau berlayar engkau sudah berlayar pergi masuk Kristen.

Setelah bercerai dengan Gubernur spanyol, LINGKAN WENE kembali ke Wenang Manado, mengangkat anak lelakinya dengan Gubernur Spanyol bernama MAINALO menjadi raja Minahasa, yang tidak di setujui orang Minahasa hingga timbul perang mengusir orang Spanyol dari Minahasa tanggal 10 Agustus 1644, maka berakhirlah pemberian gelar LINGKAN WENE dan MUNTU - UNTU pada sistim pemerintahan adat Minahasa……Kumamberu, Kamberu Owey….


Sumber : www.maengket.com

© www.taranak-mamahit.com
    Designed by 123Q
email