<BGSOUND SRC="mars.mid" LOOP=INFINITE> Mamahit
Mamahit


Rumah Roh Balongsong Ratahan


          Pada acara kematian orang Minahasa tempo dulu, telah dikenal dua bagian upacara adat. Pertama adalah upacara adat Ngolongan atau "Mangolongan", upacara ini berbentuk tarian yang ditujukan kepada jenazah yang akan dimasukkan dalam batu kubur Waruga .
Kedua adalah upacara adat Rumou'tana' upacara ini dilakukan pada hari ketiga dengan membawa rumah-rumahan dari kayu yang disebut Balongsong kesuatu tempat yang jauh dari rumah yakni di ladang atau kebun milik orang yang meninggal dunia.
Upacara ini khusus ditujukan kepada roh orang yang meninggal agar meninggalkan rumah semasa hidupnya dan berpindah ke rumah-rumahan yang disebut Balongsong .
Dan, dari tempat itulah roh yang sudah mati akan naik ke langit menjauhi bumi.

          Waruga dan Balongsong sama-sama penting dalam upacara kematian. Tapi, karena Balongsong terbuat dari kayu maka cepat membusuk, lapuk dan hilang dimakan waktu, berbeda dengan Waruga yang terbuat dari batu.
Satu-satunya Balongsong yang masih tersisa adalah Balongsong yang disimpan di museum Jakarta dengan nomor katalog 2895.A.
Balongsong ini dibuat untuk upacara kedukaan nyonya Hukum Kadua Tonsawang di negeri Kuyanga, Balongsong ini dibawa ke Jakarta (Batavia) pada tahun 1893.
Nyonya Hukum Kadua Tonsawang semasa hidupnya senang melakukan perjalanan dengan menunggang kuda, ketika seorang peneliti Belanda DR. W. R. Van Hoevell melakukan perjalanan dari Tonsawang ke Tombatu tahun 1856, dia pernah bertemu dengan nyonya Hukum Kadua ini, kisah pertemuan itu ditulis dalam bukunya " Fragment uit een reis verhaal " jilid III tahun 1856 halaman 82.
Kisahnya rombongan peneliti barat itu kemalaman ditengah hutan lebat menuju Tombatu, antara negri Mundung dan Kuyanga.
Tiba-tiba dia mendengar suara-suara wanita lalu muncullah tiga penunggang kuda wanita didahului oleh wanita tua yang telah berambut putih yang memperkenalkan diri sebagai nyonya Hukum Kadua Tonsawang.
DR. W.R. Van Hoevell terheran-heran melihat ketiga wanita ini yang berjalan di jalan yang tidak rata dan berbelok-belok turun naik, apalagi di tengah hutan lebat yang gelap dan hanya di terangi sinar bulan.

          Dari sini dapat kita mengerti mengapa Balongsong dari Tonsawang yang terdapat di museum Jakarta itu bermotif hias gambar manusia wanita dan gambar manusia diatas kuda.
Gambar ini dianalisa oleh penulis N. Graafland dalam bukunya " De Minahasa " jilid II tahun1898 halaman 39 sebagai gambar seekor anjing.
Tapi kemudian dikoreksi oleh penulis DR. Hetty Palm dalam bukunya " Ancient art of the Minahasa " halaman 5, dia mengatakan bahwa bukan gambar anjing yang ada di Balongsong itu, tapi gambar kuda.
Karena, sesuai dengan kegemaran si pemilik Balongsong, nyonya Hukum Kadua Tonsawang semasa hidupnya yang suka menunggang kuda .
Rumah Roh Balongsong di museum Jakarta itu sebagai benda " Anthropologi-religi " warna hitam putih, tinggi 130 cm, panjang 100 cm, lebar 38 cm punya hiasan dan ukiran serta bentuk yang dapat mengungkapkan konsep agama asli Minahasa mengenai roh manusia .
Nampaknya orang meninggal di Minahasa punya dua rumah, rumah untuk badan kasar (jenazah) di Waruga dan rumah untuk roh di Balongsong.

           Sekarang ini, kita ketahui adalah bahwa kubur orang Minahasa tempo dulu hanya Waruga yang artinya "Wale" (rumah), "Ruga" (terbongkar hancur) tempat jenazah berubah menjadi tulang-belulang.
Ternyata dalam upacara kedukaan Minahasa tempo dulu disiapkan dua rumah-rumahan untuk si yang meninggal
(1). Rumah-rumahan dari batu disebut Waruga untuk jenazah.
(2). Rumah-rumahan dari kayu disebut Balongsong untuk roh, yang diletakkan jauh dari rumah untuk persiapan        menuju negri langit .

           Perbedaan lainnya adalah bekal kubur dalam Waruga berupa barang bernilai yang menunjukkan status sosial seperti piring porselin, senjata tajam, emas, manik-manik.
Sedangkan isi dari Balongsong sangat sederhana yakni peralatan makan dan kehidupan seseorang di hari tuanya sebelum meninggal yang kembali pada kehidupan purba.

          Kita lihat laporan kisah perjalanan ilmuwan Alfred Russel Walles mengenai Minahasa dalam bukunya " Malay Archipelago " tahun 1869 halaman 384 - 385 :  " The major Tomohon (Roland Ngantung Palar) was dressed in a suit of black really looked gentlemanly, the major's father who was chief before him, lived in rude hut ruised on a lofly poles decorated with human heads, " Artinya, Hukum Besar Tomohon (Roland Ngantung Palar) berbusana hitam seperti tuan-tuan, ayahnya yang bekas Hukum Besar Tomohon yang dia gantikan, hidup dirumah sederhana dan berhiaskan tengkorak manusia.
Ayah Hukum Besar, major Tomohon bernama Palar adalah bekas letnan dalam perang Jawa yang kembali ke Minahasa tahun 1830 yang dimasa tuanya tahun 1869 hidup dipondok sebelah rumah anaknya yang waktu itu adalah pembesar (major) Kepala Walak Tomohon .

            Inilah gambaran penghidupan masyarakat Minahasa pada periode pra-kristen, dimasa lalu, tapi kebiasaan seperti itu masih penulis lihat pada masa tua penulis budayawan Minahasa H.M. Taulu.
Dimasa tuanya di Manado penulis lihat tahun 1981 tidak mau makan dipiring porselen tapi dipiring kaleng dan minum dari tampurung .

            Pembuatan Balongsong di Minahasa kemungkinan mulai menghilang tahun 1870-an sedangkan pembuatan Waruga masih berlanjut sampai tahun 1900-an, hingga Balongsong di museum Jakarta asal negeri Kuyanga Minahasa sangat penting diteliti karena mengandung nilai konsep orang Minahasa mengenai roh jiwa manusia.
Kebiasaan orang Minahasa sekarang ini membuat kursi dan meja kecil di kubur orang yang baru meninggal adalah kelanjutan tradisi Balongsong.
Tapi tradisi membuat kursi dan meja mini di dekat kubur memberi kesan mendekatkan peralatan roh si mati dengan jenazah atau tulang-belulang si mati.
Sedangkan konsep orang Minahasa tempo dulu membuat Balongsong adalah untuk menjauhkan roh si mati dengan jenazahnya, supaya roh si mati melupakan badan kasarnya yang bersifat duniawi.

            Bagi masyarakat biasa yang tidak dimakamkan pada batu Waruga untuk menghormati jenazah si mati, tetap harus dibuatkan rumah roh Balongsong agar roh si mati dapat menemukan jalan ke negeri langit dan tidak kembali ke bumi sebagai hantu.

           Gambar sketsa rumah-rumahan peti kayu Balongsong terlihat ada sayap-sayap dikiri-kanan, sayap paling atas menggambarkan kepanjangan bubungan rumah adat Minahasa .
Dibagian bawah atap segi tiga terdapat soldor atau loteng yang dalam upacara adat termasuk bahagian yang paling suci dari seluruh rumah.
Sayap-sayap dibawahnya memberi kesan haluan perahu Minahasa yang bukan perahu penangkap ikan, tapi perahu pelayaran antar pulau atau perahu pengangkut jarak jauh. Memberi kesan "Perahu Hayat" atau perahu yang membawah roh si mati ke negeri langit.
Pada sayap ada ada hiasan kotak-kotak bertitik mirip motif hias kain tenun Bentenan yang disebut "Lengkey Wanua"
(Lengkey = tinggi, Wanua = negeri) negeri yang tinggi di langit.
Gambar manusia jenis wanita dalam bentuk gambar bayi dengan kedua tangan keatas, roh manusia yang meninggal kembali menjadi bayi untuk dilahirkan kembali ke negeri roh.
Gambar orang naik kuda juga memberi kesan perjalanan berkuda ke negeri langit .

            Bentuk Balongsong dan motif hiasnya tidak menggambarkan status sosial si mati seperti motif hias pada Waruga, tapi simbolisasi perjalanan roh si mati ke dunia yang lain di langit .

Oleh :

Jessy Wenas

 Sumber : Palakat K3 - No. 12 - Tahun I - Maret 2000

 

© www.mamahit.com
    Designed by 123Q
email